My Books

Monday, May 20, 2013

Kata yang Istimewa


Tulisan ini pernah dimuat di Majalah Sekar Edisi 61/11 13-27 Juli 2011

“Kenapa Bunda selalu bilang terima kasih pada bapak itu?” tanya anak saya suatu hari. Saat itu kami akan keluar dari tempat parkir sebuah pertokoan. Seperti biasa, sambil mengeluarkan mobil dari tempat tersebut saya mengucapkan kata terima kasih pada tukang parkir.
            Saya terkejut mendengar pertanyaannya. Anak-anak sungguh peka dengan apa yang mereka lihat dan dengar. Sebelumnya saya tak menyadari bahwa saya selalu berbuat demikian saat memberikan uang parkir pada setiap tukang parkir. Bahkan juga pada satpam, penjaga palang pintu kereta di gang kecil dekat rumah kami, dan pada asisten rumah tangga kami. Kenapa ya? Saya mengingat-ingat sejak kapan saya mulai melakukan hal tersebut. Sepertinya sudah lama sekali, mungkin kebiasaan itu sudah saya pupuk sejak saya kuliah dahulu.
            Saya jelaskan pada anak saya berbagai alasan mengapa saya mengucapkan terima kasih pada orang-orang tersebut. Pertama, tentu  saja karena mereka telah membantu saya. Meskipun bantuan yang mereka lakukan kelihatan sepele, seperti “hanya” memberi aba-aba agar mobil bisa keluar dari deretan parkir dengan selamat atau membukakan pintu gerbang rumah kami saat kami pulang. Tetapi sekecil apapun bantuan itu saya selalu melihatnya sebagai sesuatu yang berarti.
            Kedua, saya memberikan gambaran pada anak saya bahwa mengucapkan terima kasih akan sangat menyenangkan, tidak hanya bagi mereka yang menerima ucapan terima kasih itu, tetapi juga bagi kita yang mengucapkannya. Ucapan terima kasih adalah kata-kata sederhana yang keluar dari mulut kita namun bermaksa sangat dalam. Apalagi jika kita menambahkan seulas senyum saat mengucapkannya. Saat kita mengucapkan terima kasih pada orang lain, kita membuat orang tersebut merasa dihargai.
            “Coba bandingkan. Jika Bunda meminta Kakak mengambilkan sesuatu tanpa berterima kasih dengan jika Bunda meminta Kakak mengambilkan sesuatu lalu berterima kasih. Bagaimana rasanya?” tanya saya padanya.
            “Ah, tentu saja Kakak lebih senang jika Bunda berterima kasih,” katanya ringan. Saya tersenyum mendengar jawabannya. Saya senang dia dapat mencerna apa yang saya katakan sekaligus lakukan. Saya yakin anak-anak peniru yang baik. Dengan mengajarkan berterima kasih, saya ingin mengajarkan pula cara menghargai orang lain. Saya pun katakan  mengucapkan terima kasih dengan hati tulus dan senyum akan lebih menyenangkan dibandingkan jika kita terpaksa melakukannya.
Suatu hari nanti saya yakin dia akan memahami bahwa berterima kasih atas bantuan yang kita terima sekecil apapun dan pada siapapun membuat diri kita juga merasa beruntung. Hati kita juga akan mengucap syukur atas apa yang diberikan Tuhan melalui tangan-tangan mereka. Apabila itu kita lakukan, saya percaya hari-hari akan terasa lebih menyenangkan, hati terasa ringan dan ikhlas jika kita mengucapkan terima kasih. Kata “terima kasih” memang sungguh istimewa.

5 comments:

  1. setuju mak

    Terima kasih merupakan kata sederhana namun bermakna. Karena dari kata itu, orang merasa dihargai.. ^^

    ReplyDelete
    Replies
    1. Bener banget. Makasih udah berkunjung, Mak :)

      Delete
  2. Hehehe jadi keinget ritual wajib saya sebelum tidur ke anak-anak, "I Love You Daffa'/Abyan, terimakasih ya sudah jadi anak ibu yang soleh hari ini, met bobo.." trus cup cup

    ReplyDelete
  3. kunjungan bayi nih gan. maklum newbie baru 22 hari umurnya.
    mohon bantuan dan tips tips menariknya. sukses selalu ya gan

    ReplyDelete