My Books

Wednesday, November 21, 2012

Serunya Menulis Novel Duet

Ini kali pertama saya menulis novel dengan cara duet. Ide awal datang dari rekan duet saya, Mbak Wiwik (demikian saya biasa memanggilnya). Kami bicara mengenai plot yang kami susun. Setelah sepakat, kami mulai membagi jatah penulisan. Caranya, kami mengerjakan secara bergantian. Jika satu bab sudah selesai ditulis Mbak Wik, saya meneruskan bab berikutnya. Bukan pekerjaan yang mudah menyatukan dua kepala. Sempat juga, kami mengobrak-abrik beberapa bab dan menyusun ulang plotnya. Untungnya, gaya bercerita kami hampir mirip.
Yang unik, sebagian dari novel ini saya tulis ketika saya pergi ke Bangkok. Kalau naskah novel ini manusia, mungkin dia sudah pusing dilempar Jakarta-Bangkok berkali-kali hehe. Meski jungkir balik, mengejar deadline, mencari koneksi internet untuk mengirimkan file naskah ini, dan mengeditnya agar jalan ceritanya lebih mengalir, lega rasanya ketika novel ini akhirnya rampung.
Dan, inilah hasilnya:

Judul : Kue-kue Cinta
Penulis : Fita Chakra dan Wylvera Windayana
Penerbit : Pelangi Books
Jumlah halaman : 234 halaman
Harga : Rp 40.000,-

Sinopsis
Sepeninggalan ayahandanya, Awang dan Nining harus bekerja keras agar bisa tetap sekolah. Ibundanya pun merantau ke Malaysia untuk bekerja. Sambil menahan kerinduan, Awang dan Nining mengamen. Pekerjaan itu tak mudah bagi mereka. Mulai dari modal yang minim, membagi waktu dengan waktu belajar, dan nyaris dikeroyok sekelompok pengamen jalanan mereka alami. Mereka pun beralih menjual kue dari rumah ke rumah.
Apakah mereka berhasil menamatkan sekolahnya? Apakah impian memiliki toko kue tercapai? Dan, apakah mereka bisa bersatu kembali dengan ibundanya?

Silakan datang ke launching dan booksigning Kue-kue Cinta di stand Pelangi Books, Borneo no 132-134. Kamis, 22 November 2012 pk 16.00-18.00. Ditunggu kehadirannya :)
 

Tuesday, November 20, 2012

(Info Acara) Launching Marigold School Series

Setelah Alea si Balerina (Yuriza), akan menyusul buku berikutnya dari Marigold School Series, yang berjudul I Have a Dream (Fita Chakra). Mau tahu proses kreatif penulisan seri ini? Dateng yuk, ke acara seru ini. 

Gathering PCPK dan launching Marigold School Series. 
Sabtu, 24 November 2012
Pk 14.00-15.45
Ruang Anggrek, Lt 2. Indonesia Book Fair, Istora Senayan.

Banyak doorprize seru di sana, lho. Ditunggu kedatangannya ya. :) Infonya ada di sini http://www.penuliscilikpunyakarya.blogspot.com/

Wednesday, November 14, 2012

(Artikel Wisata) Keliling Bangkok, dimuat di Leisure Republika



Artikel ini pernah dimuat di Leisure Republika, 24 April 2012. Teknis pengirimannya ada di sini. Seperti biasa, yang saya posting adalah versi yang belum diedit. Semoga bermanfaat. :)


Keliling Bangkok

            Banyak wisatawan yang was-was berkunjung ke Bangkok akhir tahun lalu karena berita banjir yang melanda kota itu. Padahal, pusat kota Bangkok masih bisa dikunjungi. Beberapa tempat memang terendam air. Namun, Bangkok telah mempersiapkan diri dengan baik. Karung-karung penahan banjir diletakkan di tempat-tempat strategis untuk mengantisipasi genangan air. Dan ketika banjir surut, bekas-bekas banjir segera dibersihkan.
            Dari segi transportasi, di Bangkok, wisatawan bisa bepergian dengan apa saja. Berbagai moda transportasi di sini terjangkau harga tiketnya, tepat waktu, dan cepat. Semuanya serba teratur dan bersih sehingga wisatawan nyaman menggunakannya.
            Bangkok salah satu kota modern yang tidak meninggalkan nilai-nilai tradisi. Selain gedung-gedung bertingkat dan mal-mal yang dibangun, mereka masih mempertahankan bangunan-bangunan bersejarah. Perpaduan itu menimbulkan kesan yang unik. Tak salah jika Bangkok termasuk kota yang memesona di Asia. Dikelilingi kanal-kanal di seputar kota membuat Bangkok rawan banjir. Namun ini tak menyurutkan nyali wisatawan untuk datang. Keramahan penduduk dan berbagai tempat wisata di Bangkok lebih menarik untuk dikunjungi.

Chao Praya
Melintas di Chao praya
Sungai Chao Praya merupakan sungai utama dan terlebar di Thailand. Membentang sepanjang 372 km, di kanan kiri sungai ini terdapat banyak bangunan dan tempat wisata. Beberapa hotel besar juga berada di pinggir sungai ini. Para wisatawan dapat melakukan perjalanan wisata dengan kapal yang menyediakan layanan dinner cruise. Pemandangan di malam hari sungguh memesona dihiasi kerlip lampu dari gedung-gedung di sepanjang sungai. Suasana terlihat romantis dan hangat.
Jika Anda melakukan perjalanan siang hari, tak ada salahnya mampir duduk-duduk di dermaga untuk memberi makan ikan-ikan dan burung yang terbang di sekitar dermaga. Makanan ikan dan burung itu dijual khusus di dekat dermaga.
Dengan tiket one day service pass 150 Baht per orang untuk dewasa, dan 80 Baht per orang untuk anak-anak, para wisatawan dapat menyusuri sungai sepuasnya sambil berpose dengan latar belakang kuil yang terletak di pinggir sungai.

Grand Palace
Jika ingin pergi ke Grand Palace, para wisatawan dapat menggunakan kapal menyusuri Sungai Chao Praya. Setelah itu apabila ingin melanjutkan perjalanan ke Wat Pho (yang terdapat patung Budha tidur), tinggal naik kapal menyeberangi Sungai Chao Praya.
Detail ornamen yang menarik
Tiket masuk Grand Palace 400 Baht (sekitar 120 ribu rupiah). Tiket itu berlaku untuk wisatawan luar Thailand. Sementara untuk pengunjung warga negara Thailand, mereka tidak perlu membayar tiket masuk. Grand Palace buka setiap hari mulai pukul 08.30-15.30.
Untuk masuk ke dalamnya, pengunjung harus berpakaian sopan. Pengunjung tidak diperkenankan mengenakan pakaian tanpa lengan, tembus pandang, sandal ataupun celana pendek atau rok mini. Jika kebetulan mengenakan pakaian seperti itu, mereka menyediakan persewaan kain di dekat pintu masuk. Sangat disarankan untuk datang di pagi hari. Apabila sampai di sana pada siang hari, sebaiknya membawa topi atau payung untuk melindungi diri dari sengatan matahari. Jangan lupa membawa sebotol air minum agar puas menikmati detail bangunan di dalam Grand Palace karena air minum hanya dijual di luar kompleks Grand Palace.
Grand Palace merupakan salah satu bangunan kebanggaan masyarakat Thailand yang wajib dikunjungi. Arsitekturnya yang sangat memukai dengan warna dominan kuning keemasan membuat bangunan ini nampak memikat diabadikan di dalam foto. Di sore hari ketika pantulan sinar matahari yang keemasan berpadu dengan warna kuil, akan semakin menarik untuk diabadikan.
Menurut sejarahnya, dahulu di tahun 1782, Rama I menjadikan Bangkok sebagai ibu kota. Lalu mendirikan Wat Phra Kaew, yaitu kuil Emerald Budha. Wat Phra Kaew digunakan untuk menempatkan patung Budha yang paling berharga yang berasal dari abad ke-14. Tahun 1784 dibangunlah tempat kediaman keluarga raja di tempat itu, yang disebut Grand Palace.
Selain kuil-kuil dan bangunan penting, di dalam kompleks ini juga terdapat lukisan-lukisan yang menceritakan sejarah Thailand di sepanjang dinding. Sejak abad ke-20 keluarga raja tidak lagi tinggal di kompleks ini. Namun, Grand Palace tetap terjaga keindahan dan nilai historisnya.

National Museum
National Museum terletak di Na Phrothat Road, tak jauh dari Grand Palace. Museum ini bisa dikunjungi pukul 09.00-16.00. Tiket masuk 200 Baht per orang (sekitar 60 ribu rupiah).
National Museum dibangun pada akhir abad ke 18. Apa saja yang ada di sini? Pengunjung bisa melihat berbagai benda bernilai historis sejak jaman Sukothai hingga Rattanakosin. Misalnya koleksi senjata, keramik, tekstil, bahkan beras kebanggaan rakyat Thailand ada di sini.
Di National Museum
Di bagian lain dari museum ini terdapat sebuah rumah yang disebut Rumah Merah (Tam Nak Daeng) karena warnanya yang dominan merah. Juga terdapat kereta untuk pemakaman keluarga kerajaan. Kereta ini biasanya digunakan untuk melakukan upacara kremasi. Kereta tersebut nampak megah dihiasi dengan detail ornamen yang sangat rumit. Sekali waktu, ada petugas-petugas yang ditugaskan untuk membersihkan kereta tersebut dari debu.

Belanja di Pharurat Market, Pratunam Market dan Chatuchak Market
Bepergian tanpa membawa buah tangan kurang lengkap rasanya. Beberapa tempat belanja yang dapat dikunjungi di Bangkok antara lain Pharurat Market, Pratunam Market, dan Chatuchak Market. Ketiga tempat tersebut menawarkan harga yang murah. Apabila ingin membeli barang dalam jumlah besar katakan saja bahwa ingin membeli grosir.
Souvenir seperti gantungan kunci, magnet kulkas, postcard, dan juga hiasan meja sangat banyak variasinya. Berbagai macam model baju dari baju anak-anak hingga dewasa juga dengan mudah dapat ditemukan. Aksesoris, dekorasi rumah, tas, hingga makanan bertebaran di segala penjuru pasar.
Khusus untuk Chatuchak Market, pasar ini hanya buka di hari Sabtu-Minggu. Pengunjung bisa ke pasar ini menggunakan BTS Sky Train atau MRT Subway dan berhenti di Stasiun BTS Mo Chit atau MRT  Chatuchak Park.
Chatuchak Market sangat luas. Ada sekitar 15000 kios di pasar tersebut. Agar tak tersesat mintalah peta di pusat informasi atau kantor polisi terdekat. Di tengah pasar ada menara jam tinggi yang bisa dijadikan patokan untuk menentukan arah. Kunjungi pasar ini di pagi hari. Selain matahari belum terlalu terik, penjual biasanya mau menurunkan harga jika ditawar.
Jika lelah, di dekat Chatuchak Market ada sebuah taman bernama Chatuchak Park. Sambil duduk, pengunjung bisa menikmati pemandangan burung-burung yang berterbangan, ikan hias di danau, atau sekadar makan camilan. Taman itu bersih dan berumput hijau.

Perlihatkan Kesantunan
Meskipun sebagian besar warganya sudah modern, namun kesopanan sangat diperhatikan di Bangkok. Di kuil-kuil kenakan pakaian tertutup. Saat masuk ke dalam kuil lepaskan alas kaki dan tidak berisik. Jagalah kebersihan dengan membuang sampah di tempat sampah. Bahkan di stasiun kereta kebersihannya terjaga baik.
Masyarakat Thailand sangat menghormati Raja Thailand dan keluarga istana. Di jam-jam tertentu yaitu pukul 08.00 dan 18.00 lagu kebangsaan Thailand akan dikumandangkan. Di tempat-tempat umum, masyarakat Thailand akan berdiri tegak sambil menyanyikan lagi tersebut.

Makanan Khas Thailand
Seafood
Seafood merupakan hidangan yang tak boleh dilewatkan, terutama bagi penggemar seafood. Sea ood di Bangkok sangat segar dan terjaga cita rasanya. Bagi muslim yang bepergian ke Bangkok seafood adalah salah satu hidangan yang aman mengingat di sana banyak makanan yang terbuat dari daging babi.
Tom Yam Kung adalah salah satu makanan khas Thailand yang berbahan dasar seafood. Sup dengan kuah pedas asam ini terasa segar dipadu dengan udang, cumi, dan ikan. Jika disajikan hangat rasanya sangat mengundang selera.
Di Tom Yam Resto yang berada di Khaosan Road banyak pilihan sea food yang ditawarkan. Mulai dari kerang, tom yam kung, hingga gurame asam manis semuanya terasa gurih karena dagingnya yang masih segar. Sebagai gambaran, untuk makan dua orang dengan porsi Tom Yam Kung, Gurame Asam Manis, nasi, sayur, dan minuman menghabiskan sekitar 780 Baht (sekitar Rp 234.000,-). Harga yang pantas untuk makanan seenak itu.
Variasi makanan yang lebih banyak dapat dinikmati di berbagai mall dan pusat perbelanjaan seperti Siam Paragon. Pada waktu-waktu tertentu ada festival makanan yang diadakan di sana. Kerang hijau yang besar dan segar bisa menjadi pilihan. Kerang hijau ini sangat nikmat disajikan hangat.

Pancake Thailand
Entah apa nama aslinya, namun makanan yang serupa dengan serabi ini juga disebut pancake Thailand. Merupakan campuran dari krim, kelapa, telur, dan jagung. Secara keseluruhan cita rasanya manis gurih. Makanan ini bisa dijual oleh pedagang kaki lima di sepanjang jalan hingga di kios-kios di dalam mall. Makanan ini dapat dicoba sebagai camilan pengganjal perut jika lapar saat berjalan-jalan.
Jika membeli di pinggir jalan, satu buah pancake ini bisa dinikmati hanya dengan harga 10 Baht per potong.

Serangga Goreng
Bagi penjajal berbagai makanan, makanan ekstrem ini mungkin merupakan makanan yang wajib dicicipi. Meski bentuknya menakutkan, serangga merupakan makanan berprotein tinggi. Serangga goreng renyah, gurih, dan crispy.
Penjaja serangga goreng dapat ditemukan di pinggir jalanan kota Bangkok. Satu kantung harganya 20 Bath.

Naik Apa?
Banyak maskapai penerbangan yang membuka rute Jakarta-Bangkok. Jika ingin mendapatkan tiket low fare, lebih baik booking jauh-jauh hari. Air Asia bisa merupakan salah satu pilihan. Jika beruntung, mungkin bisa memperoleh tiket sekitar Rp 2.000.000,- pp per orang. Tersedia pula pilihan tiket sekaligus akomodasi. Bila mengambil paket ini, harga yang dibayarkan akan jauh lebih murah.
Dari Bandara Svarnabhumi, Bangkok ke pusat kota tersedia Airport Rail Link mulai dari jam 06.00 sampai tengah malam. Ada dua jenis kereta Airport Rail Link yaitu, Suvarnabhumi Airport Express atau SA Express Line yang cepat dan eksklusif, serta Suvarnabhumi Airport City Line (SA City Line). SA City Line lebih lama jarak tempuhnya, namun cukup nyaman. SA City Line ini berhenti di delapan stasiun yaitu Phaya Thai, Ratchaprarop, Makkasan, Ramkhamhaeng, HuaMak, Ban Thap Chang, Lat Krabang, Svarnabhumi. Dengan tiket seharga 35 Baht per orang, penumpang dibawa ke pusat kota sambil menikmati pemandangan kota Bangkok.
Di pusat kota Bangkok, tak perlu khawatir kesulitan berkeliling kota. Bangkok memiliki berbagai moda transportasi, antara lain bus, taxi, tuk-tuk (semacam bajaj), BTS Sky Train, MRT, dan kapal yang melintas di Sungai Chao Praya. BTS Sky Train dan MRT merupakan pilihan yang cukup nyaman untuk berkeliling Bangkok karena berhenti di tiap stasiun. Tiket berkisar antara 20-35 Bath per orang bisa diperoleh dengan menukarkan uang ke dalam mesin dengan koin pengganti tiket. (Fita Chakra)

Akomodasi
Banyak hotel berbagai tingkatan yang berada di pusat kota. Tinggal pilih sesuai bajet. Jika dana terbatas, tersedia bisa menginap di FX Hotel Makkasan, Ecotel Pratunam atau beberapa penginapan di kawasan Khaosan Road. Banyak backpacker tourist yang menginap di kawasan ini. Cek tarif hotel di www.khaosandroad.com.


FX Hotel Makkasan
1643/5 New Phetchaburi Road Makkasan, Ratchathevi

Ecotel Pratunam
1091/333-4 new Pectaburi Road 35

Rambuttri Village Inn & Plaza
95 Soi Rambuttri, Chakkra Phong Road, Phra Nakorn

Monday, November 12, 2012

ASEAN Blogger Community: Peran Blogger dalam Sosialisasi Budaya dan Wisata


Sabtu, 13 Oktober 2012 saya menghadiri acara Silaturahim dan Diskusi ASEAN Blogger Community.  Acara ini diadakan di Gedung Pusdiklat Kementrian Luar Negeri, tepatnya di Jl. Sisingamangaraja, Jakarta. Saya mendapatkan kesempatan baik ini berkat informasi yang saya peroleh dari Kumpulan Emak-emak Blogger. Acara ini terselenggara dalam rangka ulang tahun ASEAN ke-45 tanggal 8 Agustus lalu.


Senangnya, pengalaman ini berhasil membuka wawasan dan menambah pengetahuan saya tentang peran blogger dalam sosialisasi potensi budaya dan wisata. Ternyata, menulis blog sama sekali bukan kegiatan yang sepele, lho. Dampaknya cukup besar, terutama untuk penyebaran informasi. 


Bersama Kumpulan Emak-emak Blogger
Perwakilan-perwakilan komunitas yang ikut hadir dalam acara ini antara lain : Kumpulan Emak-emak Blogger, Blogger Detik, Kartu Net (Karya Tuna Netre), DBlogger, Blogger Bekasi, Bolgger Bogor, Komunitas Bicara Film, Blogger Reporter, Internet Sehat, Ikatan Duta Budaya dan Pariwisata Indonesia, dan masih banyak lagi yang lainnya. Selain acara diskusi, juga ada lomba live tweet mengenai acara ini. Nggak heran kalau sepanjang acara, para peserta sibuk nge-tweet :)

Pembawa acara bikin acara seru :)
Acara dibuka oleh pembawa acara Eka Situmorang, seorang blogger yang aktif dan aktivis ASEAN Blogger Community dilanjutkan dengan sambutan Ketua Panitia, Chici Utami. Lalu Imam Brotoseno selaku Chairman of ASEAN Blogger Community, ikut pula memberikan sedikit kata pengantar tentang kegiatan ini.
Sambutan dari Ketua Panitia


Sambutan dari Bapak Imam Brotoseno
         Berikut ini yang hal-hal bisa saya sarikan dan bagikan dari acara yang berlangsung sekitar lima jam bersama ASEAN Blogger Community Chapter Indonesia ini.

Tentang ASEAN Community
Acara selanjutnya adalah presentasi mengenai ASEAN serta kerjasama dengan mitra wicara (negara-negara yang bekerjasama). Pembicara yang hadir di sesi tentang “Sosialisasi Peningkatan Kerjasama ASEAN dengan Mitra Wicara” adalah Bapak I Gusti Wesaka Puja sebagai Dirjen Kerjasama ASEAN.
Sesi Presentasi tentang ASEAN Community
ASEAN dibentuk tahun 167 saat kondisi tidak stabil, karena itu diperlukan kerjasama di berbagai bidang untuk meningkatkan taraf hidup dan meredakan rasa curiga. Dikatakan oleh beliau bahwa ASEAN bertujuan memperkuat kerjasama antara negara anggota-anggotanya dalam berbagai bidang. Kerjasama yang dimaksud termasuk menyelesaikan konflik yang terjadi di negara-negara anggotanya. Jika kawasan ASEAN tumbuh menjadi kawasan yang kuat, maka negara-negara anggotanya punya kesempatan untuk bertumbuh dengan baik.

Untuk itu banyak hal yang dilakukan oleh ASEAN. Hal-hal yang menjadi skala prioritas pada masa keketuaan Indonesia 2012 adalah (sumber: materi presentasi “Sosialisasi Peningkatan Kerjasama ASEAN dengan Mitra Wicara”):
  1. Memastikan kemajuan proses pencapaian Komunitas ASEAN 2015.
  2. Memastikan bahwa perubahan arsitektur regional di kawasan tetap pada situasi yang kondusif untuk pembangunan di kawasan melalui penciptaan kondisi dynamic equilibrium, yang menempatkan ASEAN pada the driving seat.
  3. Merumuskan visi ASEAN pasca 2015, yaitu “ASEAN Community in a Global Community of Nation” yang sekaligus telah menjadi tema dari keketuaan Indonesia tahun 2011.

ASEAN Community itu sendiri bertujuan memperkuat tiga pilar komunitas. Tiga pilar utama yang ingin dicapai dalam antara lain komunitas ekonomi, komunitas sosial budaya serta komunitas politik dan kemanan. Salah satu contoh pencapaian ASEAN Community adalah Komitmen Visa Bersama.

Selanjutnya dipaparkan pula mengenai prinsip konektivitas ASEAN yaitu, konektivitas fisik, institusional, dan people to people. Prioritas ASEAN Community juga untuk para penyandang cacat (disable). Prioritas lainnya, ASEAN Community in a Global Community Nations diharapkan terimplementasi 2015-2022. Selanjutnya, hingga November 2012 keketuaan pada Kamboja, bertema ASEAN: One Community, One Destiny.

Pentingnya Peran Blogger dalam Sosialisasi Budaya dan Wisata
Sesi selanjutnya diisi oleh Bapak Bagas Hapsoro sebagai Deputy Secretary-General of ASEAN for Community and Corporate Affairs, dengan presentasi berjudul “ASEAN Cooperation on Outreach Programme.” Pada sesi ini beliau memaparkan lebih detail tentang kerjasama dengan para mitra wicara. Mitra wicara adalah negara-negara yang bekerjasama dengan ASEAN. Kerajsama dengan mitra wicara ini diharapkan dapat meningkatkan pembangunan juga alih tehnologi. Mitra wicara ASEAN adalah Cina, Jerman, Uni Eropa, Jepang, India, Kanada, Rusia, Australia, Korea Selatan, dan Amerika.

Foto bersama pembicara setelah sesi presentasi
Dengan Amerika hubungan ASEAN cukup bagus. Ini terlihat dari kerjasama dalam berbagai event social media di Indonesia dan concern terhadap isu perdagangan manusia. Demikian juga dengan Cina yang aktif bekerjasama sebagai partner perdagangan.

Dimas, blogger Kartu Net yang tuna netra
Diskusi berlangsung cukup seru. Beberapa orang dari berbagai komunitas bertanya tentang peran blogger dalam ASEAN Community, kebebasan berpendapat dan berekspresi. Ternyata, di Indonesia sendiri kebebasan berekspresi relatif terbuka dibandingkan negara lainnya. Kesempatan ini harus dimanfaatkan dengan baik oleh blogger Indonesia untuk menyuarakan berbagai hal termasuk sosialisasi budaya dan wisata.

Beberapa pertanyaan yang diajukan oleh peserta meliputi isu perdagangan manusia, isu kebebasan berpendapat dan berekspresi pada blogger, pentingnya akses bagi penyandang disabilitas, dan sebagainya.

Pemutaran Film "Lukas Moment"
Pemutaran Film "Lukas Moment" ini merupakan acara yang paling ditunggu-tunggu oleh para peserta acara Silaturahim ASEAN Blogger Community ini, termasuk saya. Pasalnya, saya ingin tahu apa sih yang menarik dari film ini?

Aryo Danusiri, menceritakan sekilas tentang film Lukas Moment
Aryo Danusiri, sutradara dan produser film ini memberikan pengantar tentang "Lukas Moment". Dikatakannya, pembuatan film yang dilakukan pada tahun 2004 tersebut memakan waktu selama tiga bulan. Selama pembuatan film tersebut Aryo tinggal di Merauke, Papua untuk mendokumentasikan dan mengikuti kegiatan Lukas, tokoh utama dalam film tersebut.

Awal film
Film berdurasi satu jam ini dibuka dengan adegan Lukas bersama Miss Merry, pembimbingnya dari sebuah LSM dan beberapa temannya sedang berdiskusi mengenai bisnis udang. Selain bersekolah di SMK, Lukas juga belajar berwirausaha. Dia mencoba menangkar udang lalu menjualnya. Untuk mengembangkan bisnis kecil-kecilan itu, Lukas bermaksud mengirimkan udang tangkarannya ke kota. Kendalanya, Lukas tidak punya mesin pendingin untuk menyimpan udang selama beberapa hari.

Kehidupan masyarakat urban Papua
Pada adegan lainnya diceritakan kepolosan Lukas. Seorang pembeli membawa udang-udangnya dan menjanjikan akan mentransfer  sejumlah uang ke rekeningnya. Nyatanya, hingga hari yang dijanjikan tiba, Lukas tidak mendapatkan haknya secara penuh. Miss Merry berusaha membantu dengan menelepon pembelinya, namun akhirnya Lukas tidak berhasil mendapatkan sisa uang penjualan. Lukas pun mengalami kerugian. Modal dari LSM habis setelah peristiwa itu.

Di film ini, saya bisa menemukan potret kehidupan masyarakat Papua yang berbeda dari yang biasa diberitakan. Bagi saya, ini menyenangkan karena dengan menonton film ini, maka orang akan terbuka mata dan wawasannya bahwa Papua juga sama majunya seperti daerah lain di Indonesia. Di film ini sama sekali tidak terlihat kehidupan Papua yang primitif, jauh dari peradaban. Justru sebaliknya, kehidupan urban masyarakat Papua tergambar jelas di film ini, antara lain melalui adegan pawai 17-an yang meriah, kehidupan pemuda yang sedang balap motor, dan jual beli di pasar.

Melalui film ini, Lukas menggambarkan seorang pemuda yang mau belajar, tidak pantang menyerah, dan miliki semangat wirausaha. Secara keseluruhan film ini juga memberikan pesan moral bahwa kejujuran dan kerja keras penting artinya dalam hal apapun.  Meskipun pada akhirnya Lukas mengalami kerugian, banyak pelajaran berharga yang dia peroleh.

Dalam film ini, Aryo berusaha menyampaikan bahwa dia ingin penonton membuka mata, kehidupan Papua tidak seperti yang dibayangkan oleh banyak orang. Masyarakat Papua bisa berdiri dengan kakinya sendiri karena Papua menyimpan kekayaan alam yang tak kalah dengan daerah lainnya. Salah satu yang bisa dilakukan oleh mereka adalah berwirausaha.

Hal menarik lainnya yang menjadi perhatian saya, sepanjang film ini penonton akan disuguhi keindahan alam Papua yang indah. Suatu saat, jika ada kesempatan, saya ingin sekali datang kesana.

Sesi Talkshow Budaya dan Wisata
Acara selanjutnya adalah talkshow budaya dan wisata yang diisi oleh Doddy Matondang, Ketua Ikatan Budaya Pariwisata Indonesia dan Dimas Muharam, pengagas Kartu Net (Karya Tuna Netra). Yang menarik dari Dimas, beliau adalah penyandang tuna netra yang menjadi mahasiswa di UI. Di balik kekurangannya itu, dia tetap semangat belajar, dan aktif mengelola blog.

Terakhir, adalah acara penutup berupa makan malam dan ramah tamah. Tak terasa acara yang berlangsung sejak siang hari hingga menjelang mala mini berakhir. Pengalaman ini sungguh berharga untuk saya. Semoga, lain kali saya bisa hadir dalam acara serupa dan mendapatkan teman, pengalaman, dan inspirasi dari acara yang digelar ASEAN Blogger Community.

Berawal dari Diri Sendiri
Usai acara, saya berusaha merumuskan sesuatu yang bisa saya lakukan sebagai blogger dalam sosialisasi potensi budaya dan wisata Indonesia. Bagi saya, untuk memulainya tentu saja awalnya dari diri sendiri. Dan inilah beberapa hal yang bisa saya lakukan:

  1. Sering-sering posting tentang budaya dan wisata di suatu daerah. Seperti yang saya lakukan disini, disini dan disini.
  2. Aktif mengajak pembaca blog menuliskan potensi budaya dan wisata melalui media lain. Salah satunya yang saya lakukan disini.
  3. Mencari keunikan budaya dan wisata Indonesia, memberikan informasi mengenai hal itu di blog. Misalnya, tempat-tempat wisata yang jarang dikunjungi orang tetapi menyimpan keindahan yang luar biasa. Dengan demikian, semakin banyak masyarakat Indonesia mengenal negara kita sendiri dan semakin mencintai negara ini. Tak kenal maka tak sayang, bukan?
  4. Menyebarkan link liputan dan acara semacam ini secara positif. Misalnya, liputan ASEAN Blogger Community.
Salah satu foto Nusa Lembongan  yang saya kirim ke Majalah Sekar, dan dimuat
Mudah-mudahan yang saya lakukan dari diri sendiri ini bisa menjadi langkah awal yang baik bagi penyebaran informasi mengenai potensi budaya dan wisata di Indonesia. Aamiin.


* Tulisan ini diikutkan pada Lomba Blog Wisata dan Budaya yang diadakan oleh ASEAN Blogger Community Chapter Indonesia bekerja sama dengan Taman Impian Jaya Ancol











Tips Menulis Feature Wisata

Tips menulis ini saya tweet di akun saya @fitachakra pada tanggal 29 Oktober 2012.

Pengan nulis dan kirim liputan wisata? Coba saja, pasti bisa :)
1) Sblm pergi, bidik media yg dituju, cermati style penulisannya. Baca bbrp contoh tulisan di media itu.

2) Cari tahu ketentuan pengirimannya & catat.

3) Buat rencana liputan. Catat hal2 menarik di tmpt itu melalui internet.

4) Manfaat rencana liputan, membuat pekerjaan lbh terarah.

5) Yg sy lakukan adl membuat poin2 penting yg akan sy liput.

6) Kupas dr sisi kuliner, sejarah, arsitektur, keindahan alam, kegiatan yg menonjol, dsb.

7) Cobalah mencari sisi yg tdk atau belum banyak diberitakan.

8) Siapkan kamera, min kamera pocket. Jgn andalkan kamera ponsel, jk resolusi kcl, kualitas gbr krg baik.

9) Ambil byk foto dr berbagai sudut, smkn bnyk pilihan lbh mudah menentukan yg terbaik.

10) Catat hal2 penting dr pengamatan. Pertajam panca indera saat liputan.

11) Wawancara org yg ditemui di tmpt, mis: penduduk, pemilik usaha kuliner, pengunjung lain dsb.

12) Segera tuliskan hsl pengamatan setelah sampai saat pikiran msh fresh.

13) Pikirkan hal unik di tmpt tsb, hrs ada sesuatu yg berbeda yg kita sajikan pd pembaca.

14) Tulis apa yg dilihat, dirasakan, dihirup, dikecap & tuangkan dlm tulisan.

15) Di satu kota bs diulas dr berbagai sisi yg bs menjadi bbrp tulisan.

16) Pilih foto2 terbaik & kirimkan bbrp ke redaksi agar mrk punya pilihan.

19) Jgn lupa sebutkan detail pengeluaran & rute ke tmpt tersebut.

20) Kalimat2 dg bahasa setempat bs jg kt masukkan ke dalam tulisan

21) Jgn terpaku pd tmpt2 yg biasa diulas. Tmpt2 yg kelihatan "biasa" pun bnyk keunikannya.

22) Tulisan wisata di dlm atau di luar negeri sama2 pny kans utk dimuat. Jgn takut mencoba :)

23) Buat judul istimewa dg kata2 "tak biasa" utk menarik pembaca.

24) Situasi skrg akan berbeda dg situasi 1-2 tahun yg akan dtg. Segera kirimkan sblm perubahan itu tjd.

25) Sabar menunggu krn bersaing dg banyak naskah lainnya. Tp jk naskah itu unik, pasti akan lbh "terlihat".

26) Selesai sdh sharing sy, moga2 bermanfaat :)

Saturday, November 3, 2012

[Cerpen] Cermin, Aku dan Ibuku



Cerpen ini menjadi Karya Favorit dalam Lomba Menulis Cerpen Remaja Lip-Ice Selsun 2009. Idenya, berasal dari sebuah buku yang pernah saya baca sebulumnya, tentang seorang remaja yang mati-matian berdiet supaya tampil lebih langsing. Sebenarnya cerita yang saya baca itu sedikit kocak. Tapi saya menulis cerpen ini dari sudut pandang yang berbeda. Jadi kesannya gloomy. 


Cermin, Aku dan Ibuku

        
            Ibu, betapa aku ingin sekali membahagiakanmu.
Aku ingin melihatmu tersenyum, dengan ujung bibir yang melengkung sempurna. Bukan senyum yang dipaksakan. Tetapi senyum yang tulus, benar-benar nyata dari dalam hati.
          Aku rindu senyummu itu, Ibu.
Entah sudah berapa lama aku tak melihatmu tersenyum seperti yang kuinginkan. Hari ini, aku akan mencoba sebaik mungkin, agar aku bisa membuatmu bangga. Kebanggaan yang membuat senyuman terlukis di bibir merah jambumu.
Pagi ini, puluhan kali sudah aku mematut diri di depan cermin. Bayangan tubuhku terlihat jelas di dalamnya. Sesosok gadis berusia tujuh belas tahun yang berparas jelita tanpa cela. Orang-orang bilang aku cantik rupawan. Kulitku putih bersih menurun dari kulit ayah yang berkebangsaan Belanda. Hidungku mancung, tanpa harus melakukan operasi plastik. Rambutku kecoklatan bergelombang alami. Dan tubuhku termasuk tinggi untuk ukuran gadis seusiaku. Kakiku panjang bak peragawati.
            Tapi apa yang kumiliki tidak juga membuatku bersyukur. Aku bahkan merasa Tuhan tidak menyayangiku. Lihat saja, badanku gemuk sekali! Aku tidak suka itu. Aku terlalu gemuk hingga gaun yang dibelikan ibu tak cukup kupakai.
         Aku menghela napas panjang, berusaha menghapus aroma kebencianku pada badanku. Gagal. Aroma kebencian kian kuat merasuk masuk melalui hidungku, lalu menjelajah ke dalam tubuh melalui kerongkongan. Karenanya, aku justru merasa semakin benci pada badanku yang menggelambir di sana-sini. Aku benci pada timbunan lemak yang semakin hari semakin bertambah meski aku tak menginginkannya. Karena lemak itu, paha dan lenganku jadi kelihatan seperti guling baru yang biasa dipakai Kyra, adikku. Besar dan empuk.
            Semakin lama aku menatap bayangan tubuhku di dalam cermin aku menjadi semakin muak. Isi perutku seperti diaduk-aduk, mual sekali. Sambil menahan rasa mual di dalam perut aku berpikir keras, bagaimana caranya agar aku bisa mengeluarkan buntalan-buntalan lemak dalam tubuhku.
            Aku memaki bayangan tubuhku di cermin itu. Kulontarkan kata-kata kasar. Tapi tetap saja bayangan di dalam cermin itu tak berubah menjadi lebih baik. Hanya sesosok gadis bertubuh gemuk yang nampak olehku. Aku berteriak. Aku mencaci lebih keji. Namun, bayangan yang kuharapkan tak kunjung datang. Dia diam tak bergeming.
            Aku pun murka!
            Cermin sialan! Kenapa kau harus memperlihatkan tubuhku yang gemuk ini?
            PRAANG…!!
            Kulemparkan sepatuku pada cermin itu hingga dia pecah berkeping-keping membentuk potongan-potongan kecil tak beraturan bentuk.
            Aku puas.
Untuk sesaat.
*
            Aku berusaha bergaya mengikuti arahan fotografer itu. Kepalaku pening, tapi kucoba memfokuskan konsentrasiku pada perkataannya.
            “Agak miring ke kiri, Sya… Dagu turun sedikit. Nah, begitu sudah bagus, tahan sebentar,” perintahnya sambil buru-buru menekan tombol di kameranya.
            Aku mendesah perlahan. Menahan rasa sakit yang mendera kepalaku. Keringat dingin membasahi sekujur tubuhku dan aku gemetar. Sepertinya tubuhku seperti tidak bisa diajak kompromi. Kulihat ibu duduk di dekat fotografer itu, memusatkan perhatiannya padaku. Matanya menatapku sunguh-sungguh, seakan khawatir jika aku berbuat salah hingga mengacaukan pemotretan ini.
            “Duh, konsentrasi, Sya! Pandangannya jangan kosong begitu!” bentak fotografer itu mulai tak sabar. Rasanya sudah berjam-jam sesi pemotretan ini berjalan tapi tidak juga kunjung selesai. Aku sendiri sudah merasa tak sabar.
            Ibu sontak berdiri, membisikkan sesuatu pada fotografer lalu berkata padaku setengah berteriak, “Meisya, istirahat dulu, Sayang.” Rupanya Ibu meminta break pada fotografer.
Ibu, apakah engkau mengkhawatirkan keadaanku?
Ibu menyuruhku minum segelas air dingin yang dibawakannya entah darimana. Kami duduk berhadapanan, saling memandang satu sama lain.
            “Kalau kau tidak berkonsentrasi penuh, sesi pemotretan ini tidak akan pernah selesai, Meisya,” kata Ibu datar.
            Aku mengangguk setuju, tapi sejurus kemudian aku berkata, “Tapi, Bu… Kepalaku pusing, rasanya aku tak enak badan.”
            “Meisya! Selesaikan tugasmu dulu, baru kamu bisa beristirahat,” Ibu mendesis pelan. Lembut tapi penuh penekanan. Ciri khas Ibu. Aku tahu itu berarti aku tidak bisa membantahnya. Aku harus melakukan apa yang dikatakannya, agar Ibu tidak kecewa.
            “Mengerti?” tegas Ibu lagi.
            Aku mengangguk kaku.
*
            Ibu, aku berusaha memahami mengapa engkau berbuat seperti itu padaku.
Aku tahu bagaimana susahnya mencari uang untuk menjalankan kehidupan kami bertiga. Aku, Kyra, dan Ibu. Ayah menghilang entah kemana sejak Kyra masih dalam kandungan. Aku mengerti bahwa kami sangat kekurangan. Makan, sekolah, tempat tinggal, semuanya butuh uang. Dan mungkin, bagimu kebahagiaan juga harus dibeli dengan uang.
            Kata Ibu, “Kalau kamu mau menjadi model, kita bisa mendapatkan uang yang cukup untuk kehidupan kita. Kalau berkecukupan, kamu bisa pergi berjalan-jalan ke manapun kau mau, bergaul dengan teman-teman yang menghargaimu, bukan teman yang menyepelekanmu seperti sekarang,”
            Maka, aku tanamkan dalam benakku untuk menjadi seorang model. Aku berjuang mati-matian mengikuti berbagai casting. Bahkan pulang hingga dini hari aku jalani. Demi Ibu dan Kyra. Demi kehidupan kami. Demi aku juga. Karena aku ingin dianggap oleh teman-temanku. Aku tidak mau terus-terusan mendengar cemoohan mereka.
            “Huh, memangnya kamu siapa mau berteman dengan kita?” begitu kata salah seorang teman sekolahku. Pedih rasanya mendengarnya. Bukankah bagi seorang remaja teman dan lingkungan pergaulan itu penting? Sayangnya, aku tak pernah merasa dianggap diantara teman-teman.
            Ibu membuatku mau merubah diri mati-matian demi menjadi model. Memang aku harus bekerja keras, tapi imbalan yang kudapatkan pun setimpal. Uang, ketenaran, dan pengakuan dari teman-temanku.
            Aku bahagia bisa menyenangkan Ibu dan Kyra. Aku bisa membeli sebuah rumah yang megah. Membelikan mainan mahal untuk Kyra. Menghadiahkan sebuah tas bermerek yang telah lama diidam-idamkan Ibu di hari ulang tahunnya. Semuanya dengan uang hasil jerih payahku. Aku bahagia melihat orang-orang yang kucintai merasa bahagia.
            Tapi lama kelamaan, aku merasa Ibu mulai berubah. Semakin hari Ibu makin menekanku dengan membebaniku dengan berbagai pekerjaan.
            “Meisya, kamu harus ikut casting iklan shampoo itu. Honornya pasti banyak. Ibu yakin kamu bisa.”
            “Jangan terlalu banyak mengeluh, uang tidak datang seketika. Kau harus banyak-banyak jalan di catwalk kalau mau punya banyak uang.”
            “Ayo, Meisya kamu punya janji pemotretan hari ini. Ada dua pemotretan, malamnya kamu sudah ditunggu untuk syuting iklan.”
            “Ibu sudah bilang iya, kamu harus datang kesana. Kalau tidak nanti mereka tidak mau membayarmu. Ingat kamu kan sudah teken kontrak!”
            Uang. Uang. Lagi-lagi karena uang!
            Aku mulai kesal pada Ibu. Tapi aku tak bisa menolaknya karena aku paham bagaimana rasanya tidak punya uang.
*
            Cermin, katakan apakah aku kelihatan cantik?
            Tidak. Kau tidak kelihatan cantik. Kau gemuk. Tubuhmu semakin hari makin besar. Seperti balon yang ditiup perlahan-lahan. Menggelembung… menggelembung… dan siap meletus.
            Begitu kata cermin.
            Cermin selalu mengatakan yang sesungguhnya.
            Aku meyakini hal itu. Bayangan yang ada di dalam cermin itu pastilah bayanganku yang sesungguhnya. Aku gemuk. Itulah yang terlihat disana. Aku jadi benci sekali pada cermin. Entah sudah berapa kali aku pecahkan cermin di rumah ini. Tapi, meski benci aku selalu ingin berkaca. Memastikan bahwa diriku tak kurang suatu apa. Tidak kurang cantik, tidak kurang menawan dan tidak gemuk!
            Huh! Tapi tetap saja aku kelihatan gemuk. Bahkan semakin hari aku semakin gemuk.
            “Coba diet, Sya. Model harus berperawakan tinggi langsing. Kalau tidak kurus nanti tidak ada yang mau pakai kamu jadi model lagi,” saran Ibu.
            Tanpa Ibu bilang pun aku sudah tahu. Aku pun berdiet mati-matian. Ibu bilang pakaian yang dibelikannya harus bisa kupakai.
            Harus.
            Kata yang wajib aku patuhi. Tak perlu aku tanyakan mengapa. Aku sudah tahu alasannya.
            Karena aku model. Model harus kurus. Model harus menarik agar bisa mendapatkan banyak pekerjaan. Banyak pekerjaan berarti banyak uang. Banyak uang bisa membahagiakan Ibu dan Kyra. Semua alasan itu seperti lingkaran setan yang tak ada putusnya. Berputar-putar mengelilingiku setiap saat.
            Lalu bagaimana denganku? Apakah aku bahagia atau tidak? Tidak ada yang mempedulikan perasaanku. Kyra masih terlalu kecil untuk mengerti. Dia baru berusia lima tahun. Apalagi Ibu? Ibu hanya peduli pada penghasilanku. Berapa aku dibayar untuk melakukan pekerjaanku. Ibu hanya peduli pada kesehatanku karena jika aku sakit maka tidak akan ada yang menghasilkan uang untuk kami.
            Ibu tak peduli pada perasaanku. Ibu tak tahu bahwa aku sering merasa kecapekan bekerja seharian. Ibu tak mengerti bagaimana aku merindukan kebebasan berjalan kemanapun aku pergi tanpa harus ada fans yang mengikutiku. Ibu tak paham bahwa aku sering merasa jenuh dengan rutinitas ini.
            Aku memandang cermin di hadapanku. Cermin baru yang pagi tadi dipasang Ibu. Melihat sosok tubuh gemukku aku jadi mual. Perutku meronta-ronta bergejolak dan terasa melilit, ingin mengeluarkan cairan yang pahit. Aku terlalu banyak makan tadi pagi, keluhku dalam hati. Padahal aku seharusnya mengurangi porsi makanku. Aku menjadi merasa bersalah karena telah makan banyak. Tanpa kusadari, kemudian aku melakukan sesuatu yang akhirnya nanti kulakukan terus menerus.
            Jari-jariku bergerak masuk ke dalam mulut dengan lincah. Merogoh lebih dalam ke ujung lidah hingga hampir masuk ke kerongkongan. Cairan pahit di dalam perutku mulai naik perlahan tapi pasti. Sebentar lagi makanan yang tadi pagi aku makan akan keluar, pikirku. Mataku melotot saat cairan itu sampai di ujung lidah.
            Aku berlari ke kamar mandi memuntahkan semua isi perutku ke dalam kloset. Aku menangis kesakitan. Berpeluh di sekujur tubuh. Telapak tanganku sedingin es. Tubuhku terasa lemas, terasa ringan. Pasti karena semua makanan yang ada di dalam perutku sudah keluar. Sebentar lagi aku bisa kurus jika tidak makan berlebihan. Dan aku akan selalu mengeluarkan makanan-makanan yang membuat tubuhku semakin berlemak itu.
            Aku membaringkan tubuhku ke lantai. Rasanya seperti tak bertenaga. Tapi aku tertawa. Senang. Setidaknya sekarang aku tahu, bagaimana cara mengeluarkan lemak-lemak dari dalam tubuhku.
Memuntahkannya. Itu saja.
*
            Ibuku tersayang,
            Aku tidak habis pikir mengapa engkau seperti tidak ada puasnya mencelaku. Aku kurang begini. Aku kurang begitu. Dan yang paling sering engkau ucapkan adalah uang yang kuhasilkan kurang banyak sementara kebutuhan kami semakin banyak. Kepercayaan diriku merosot tajam seiring kecaman Ibu. Aku tak lagi gadis tujuh belas tahun yang ceria dan bersemangat menjalani hari-hariku. Aku menjelma menjadi seorang yang pemurung dan pemberang. Tekanan hidup yang membuatku seperti ini. Sekarang aku bahkan tidak hanya memecahkan cermin, tetapi juga menghindari semua barang yang bisa menghasilkan bayangan tubuhku. Aku semakin benci melihat bentuk tubuhku.
            Aku harus berjuang lebih keras lagi. Bekerja keras dari pagi hingga dini hari. Duniaku bukan lagi dunia remaja yang berwarna-warni. Duniaku terasa suram dan gelap. Aku tak tahu arah. Limbung. Aku tidak bisa memperjuangkan keinginan diriku sendiri.
Terkadang aku merasa bagaikan sebuah robot yang bergerak mengikuti perintah pemiliknya. Aku melakukan sesuatu bukan atas kemauanku sendiri. Jiwa dan ragaku tidak seirama. Ragaku bergerak mengikuti kemauan Ibu meski jiwaku menolaknya.
            Aku tergugu di malam sepi. Saat seisi orang di rumah ini tidur, aku menangis kesepian, meratap pada sang nasib. Aku memiliki harta yang berlimpah, tapi mengapa aku tak bahagia? Aku bertanya berulang-ulang. Namun aku tak jua menemukan jawabannya.
            Malam semakin dingin. Sepi. Aku yakin Ibu dan Kyra telah tidur, lama sebelum aku tiba di rumah. Seharian ini aku telah menapakkan kakiku kemana-mana, berusaha mencari uang dengan mengikuti berbagai casting.
            Aku terduduk dalam diam. Mencerna apa yang terjadi dalam hidupku perlahan-lahan. Sungguh, aku merasa putus asa tidak bisa menjadi seperti yang diinginkan oleh Ibu. Kontrakku diputus oleh salah satu produk iklan. Pasti karena aku tidak sesuai dengan kriteria yang mereka inginkan. Aku terlalu gemuk.
            Sedetik kemudian aku menangis. Lirih. Aku sudah membuat keputusan besar dalam hidupku. Keputusan yang terbaik untuk diriku. Bukankah setiap orang pantas merasa bahagia?
            CESSS!
            Kurasakan nyeri di urat nadi pergelangan tanganku. Darah mengalir perlahan-lahan dari sana. Tak lama kemudian aku melihat malaikat maut menjemputku. Meninggalkan ragaku disana. Membawaku terbang. Tubuhku terasa sangat ringan. Aku melayang bersama malaikat mautku.
Aku melihat ke bawah. Dan barulah aku tahu kenyataan yang sesungguhnya.
Seorang gadis yang pucat tinggi semampai terbaring kaku di bawah sana. Tubuhnya kurus kering seperti tak pernah makan. Wajahnya kuyu dan sangat tirus hingga pipinya terlihat cekung.
Itu aku? Aku bertanya tak percaya. Aku ingin kembali, tapi semuanya sudah terlambat. Tak mengapa. Toh aku tak bahagia di dunia.
*
Pagi hari yang kelabu.
Aku sedih melihat Ibu menangis di depan ragaku. Sementara Kyra dengan kepolosannya menanyakanku terus menerus. Aku tahu Ibu menyesal membuatku menderita. Aku mengerti Ibu merasa bersalah karena membiarkanku mengalami eating disorder. Ibu pasti juga merasa berdosa menyalahkanku terus menerus serta memaksaku memakai pakaian yang selalu lebih kecil dari ukuran tubuhku. Aku berkorban, agar Ibu sadar hingga tak mengorbankan Kyra, menjadi sepertiku.
Ibu, jangan bersedih. Aku bahagia disini… Aku sayang kalian. Selamanya.
***