My Books

Sunday, August 12, 2012

Berkunjung ke Sebuah Sekolah Istimewa: SLB Negeri Semarang


Sabtu, 11 Agustus 2012, sehari setelah saya tiba di kota kelahiran saya, Semarang, saya berkunjung ke SLB Negeri Semarang. Kunjungan itu sama sekali tidak saya rencanakan. Spontan saat bapak saya menawarkan pada saya, "Mau ikut ke SLB tidak?" saya langsung mengiyakan. Yang terpikir adalah saya ingin mengajak anak-anak, agar mereka bersyukur setelah tahu bahwa banyak anak-anak lain yang fisiknya tidak sempurna.
Tetapi, setelah Bapak memberikan gambaran tentang sekolah tersebut dan sosok Kepala Sekolahnya, Bapak Ciptono yang berdedikasi, saya semakin tertarik. Apalagi Bapak menyodorkan sebuah buku berjudul, "Guru Luar Biasa" yang ditulis oleh Bapak Ciptono bersama seorang penulis lain (saya lupa namanya). Buku itu yang dibelinya ketika SLB Negeri Semarang mengikuti bazar di rumah sakit tempat Bapak bekerja. Di dalam buku terbitan Penerbit Bentang itu beliau menuturkan suka duka mendidik anak-anak disable. Begitu keras perjuangannya, sampai-sampai Bapak Ciptono mengantarkan anak-anak didiknya mengikuti berbagai lomba kesana kemari dengan harapan kelak mereka mandiri dengan potensi masing-masing.
Satu hal menarik yang sempat saya baca sekilas sebelum berangkat, pernah suatu kali Bapak Ciptono mengantarkan anak-anak didiknya ke Jakarta untuk memenuhi undangan sebuah stasiun televisi. Selama perjalanan anak-anak didiknya yang tuna netra, tuna rungu, dan tuna grahita saling membantu satu sama lain karena diantara rombongan hanya Bapak Ciptono saja yang fisiknya normal. Bahkan saat makan, salah seorang anggota rombongan menyuapi temannya yang tuna netra.
 
Bapak Ciptono, Kepsek yang ramah dan bersemangat

Rombongan kami yang terdiri dari saya, anak-anak, Bapak, dan beberapa orang mahasiswa yang kebetulan sedang menjalani stase di rumah sakit tempat Bapak bekerja sampai di SLB tersebut sekitar pukul 8.30. Kami disambut oleh Bapak Ciptono dengan hangat. Lalu beliau mempersilakan kami masuk ke dalam ruangan kantornya untuk berbincang sejenak.
Kalimat yang membekas dari percakapan tersebut adalah, "Mereka tidak perlu belas kasihan, yang mereka perlukan hanya kesempatan. Saya ingin mereka mendapatkan ruang untuk mengembangkan potensinya." Beliau juga menceritakan beberapa orang anak didiknya yang pernah mendapatkan penghargaan dari MURI. Misalnya, Kharisma, anak autis yang pandai menyanyi, dia hapal 650 lagu dan pernah diundang mempertunjukkan keahliannya di Kick Andy. Lalu grup band tunanetra yang sudah tampil di banyak pertunjukkan. Saya sampai terkagum-kagum mendengar ceritanya. Anak-anak itu bisa menyanyi, menggambar, menari, bahkan ada yang menjadi model.
 

Ruang Kepsek, penuh dengan piala dan piagam penghargaan
Setelah berbincang sejenak, Bapak Ciptono mengajak kami berkeliling ke sekolah tersebut. Banyak sekali ruangan kelas berderet. Saat itu, pembangunan masih berlangsung. Dengan murid sebanyak 600-an orang, setiap harinya sekolah itu ramai. Para orangtua yang menunggu anak-anaknya dengan sabar menanti di depan ruang kelas. 
Oya, di beberapa ruang kelas terdapat guru-guru yang tak biasa. Ternyata menurut Bapak Ciptono, mereka adalah murid-murid SLB yang bekerja sebagai asisten guru. 
"Dengan menjadi asisten guru, mereka bisa membantu teman-temannya," katanya. 
Baiklah, mungkin saya tak perlu bercerita panjang lebar. Inilah beberapa foto yang sempat kami rekam dalam kunjungan singkat itu. Ada banyak cerita di dalam foto-foto ini. Sekolah luar biasa yang istimewa.
Jujur, saya salut untuk semangat dan kegigihan mereka. Saya jadi berkaca, mereka yang memiliki keterbatasan fisik bisa menghasilkan karya yang sehebat dan bahkan lebih bagus dari orang-orang yang sempurna fisiknya. Seharusnya saya pun bisa. Dan kalau ingat betapa banyak waktu yang saya sia-siakan untuk hal-hal yang tak bermanfaat, saya malu. Di sekolah ini, Bapak Ciptono dan guru-guru (baik yang normal maupun yang memiliki keterbatasn fisik) memberikan waktu dan tenaganya untuk berbuat pada sesama.
Allah sungguh Maha Adil, Dia memberikan kelebihan bagi anak-anak tersebut, dibalik kekurangan mereka. Seperti harapan Bapak Ciptono, semoga kelak mereka bisa mandiri. Aamiin.
Stt... sebelum berpisah, Bapak Ciptono berkata bahwa beliau ingin membuat film tentang anak-anak didiknya. Adakah yang bisa membantu?

Ada anak yang berulang-ulang minta salaman
Bersama dua orang anak-anak disable yang cantik dan murah senyum
Di ruang terapi musik. They love music very much!
Salah satu bangunan untuk ruang-ruang kelas

Hasil gambar mereka, ada kayak komik!
Ada yang persis komik. Keren!



Anak-anak autis dan down syndrom sedang mewarnai

Anak tuna rungu yang belajar menari

4 comments:

  1. Wahhh aku pas ada di dekat SLB lho mbak, tahu gitu aku nyusul kesana ya...
    Dulu pernah ke SLB juga dan perasaanku kala itu juga sangat takjub melihat prestasi mereka plus malu pada diri sendiri.

    ReplyDelete
  2. Jeng Fit, aku udah komen juga di fb.
    aku bisa bantu infoin temen yg bisa buat film utk anak2 ini. tadi orangnya sudah kuhubungi dan dia sangat bersedia. ntar tolong aku diinbox aja di fb ya, takkasih nomer hp ataupun pin bb beliau.
    semoga bermanfaat

    ReplyDelete
  3. Mbak Wati, oya? Nggak tau sih, itu juga dadakan mbak, tadinya nggak ada rencana. Lain kali mungkin kita bisa bareng-bareng IIDN Semarang kesana :)

    ReplyDelete
  4. Ok, Mbak. Kirim nomer hpnya by inbox ya. Suwun banget :)

    ReplyDelete